ADA dua hal yang paling susah bagi saya, Tuhan dan masa depan. Yang pertama, saya susah untuk menyebut Tuhan di tiap saat seperti halnya teman-teman yang tak pernah sedikitpun lupa menggumam nama Tuhan, entah itu hendak makan atau selesai mengeluarkan hajat. Yang kedua, saya susah untuk mendapatkan peta untuk sekedar melihat arah mana saja yang akan saya tuju di masa depan. Tak seperti banyak teman saya, kerja giat, cari rumah, mengumpulkan uang segudang. Konon, hal-hal itu adalah alat penerang dan kompas untuk menentukan masa depan.
Ketika teman sebaya menyiapkan denah masa depan, saya justru sedang berpikir keras; bagaimana saya 'kembali'? Kata terakhir saya beri tanda kutip dengan sebab menjadi penekanan arah tujuan saya yang sekelebat menyibak tirai pikiran saya, belakangan ini. Kembali, kembali di sini bukan soal berbalik ke lorong waktu yang dindingnya penuh gambar saya kecil. Kembali di sini menyoal luruh lagi dalam pikuk keadaan masyarakat desa yang serba tak tahu atau sok tahu.
Keinginan, mungkin masih keinginan --saya duga ini bukan kebutuhan-- yang timbul selepas lebaran lalu. Aroma pengembalian diri masuk ke polah tingkah tanpa berpikir seperti seorang pemikir, polah tingkah spontan tanpa menimbang ketinggalan zaman, berperilaku yang ngaprak -ke mana saja- tanpa tujuan yang jelas. Semuanya muncul begitu saja seraya ingin mengubur pertimbangan kalimat; Saya sudah tahu lebih banyak tinimbang kalian.
Saya pikir ini muskil. Berbicara dengan masyarakat kelas menengah bawah (bahkan, saya telah mengklasifikasikan macam-macam kerabat saya!) dengan sejumlah hal yang mengundang pertanyaan "Apa sih?" Nadanya seperti merendahkan bahwa yang diobrolkan merupakan sesuatu yang tidak penting. Bermain dengan perilaku tak berpendidikan semacam bergerombol menantang maut dengan tawuran atau sekedar melepas waktu menarik gas sepeda motor sekencangnya seolah kendaraan kami sekencang milik pebalap MotoGP! Padahal rokok kami cuma sebungkus kretek yang diisap bersama. Menonton acara televisi paling dibenci semua pemikir seperti sinetron laga dengan cerita dan penggambaran yang dianggap murahan.
Adakah keinginan 'kembali' timbul dari seringnya saya membanding-bandingkan? Itu benar-ini salah, itu kuno-ini modern, itu nirpendidikan-ini jenius. Atau saya memang sudah menjadi korban kepelikan dunia ideologis yang sibuk menentukan adiluhung kemanusiaan? Entahlah, saya cuma sedang ingin merasakan kembali bagaimana menjadi seorang yang penuh dengan cacian, dihujat, disepelekan. Toh, nyatanya, perilaku hormat-santun-sopan juga timbul setelah menjadi korban. Korban penekanan diri ingin dihormati.
Celakanya, saya sering menghujat kelakuan kerabat yang nirpendidikan tapi tak mau jadi guru di sekolah hampir ambruk depan rumah nenek saya dengan gaji superminim serta harus siap tak didengar siswa berbaju lusuh yang hanya menginginkan seragam necis bak seragam kotak-kotak milik anak kota. Mungkin karena saya masih ingin dihormati, maka keinginan saya untuk 'kembali' menjadi tak menggebu. Sisi lain pikir saya menyuruh untuk menjadi kaya, punya banyak teman di kantong-kantong kemewahan, berdecit-decit di gang sempit dengan kendaraan kinclong, dan membagi-bagikan uang di hari lebaran. Padahal uang bukan untuk dibagi, melainkan alat tukar.
Maka yang hanya saya lakukan adalah menulis enam paragraf di atas, tanpa memikirkan gramatikal, tanpa memikirkan komentar, saya hanya ingin ngaprak, tapi tak boleh terbelenggu dengan aprak-aprakan, katanya, bisa susah kawin. Kembali saja sulit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar