RESTRUKTURISASI memori menyebabkan saya terpuruk di limbung pikir. Apakah semua cerita hidup yang terekam harus diabadikan dan dikategorisasikan? Masalahnya, memori saya sudah kacau. Cerita hidup yang sudah dijalani ada yang terekam dan banyak yang tidak terekam, atau mungkin lupa di mana rekamannya itu. Otak saya memang rusak.
Seperti cermin yang rusak, bagian-bagian memori di kepala ini pecah dan berserak. Nah, saat ini proses pengumpulan kepingan memori itu membutuhkan tenaga ekstra karena banyak sekali kepingan-kepingan terkecil dan tak terlihat. Saya tak tahu bagian kecil cermin retak itu gambaran cerita saya yang mana. Tapi, yakin saya, jika kumpulan memori terpecah berkeping-keping, ada kalanya kepingan terkecil malah yang menjadi jembatan perekat bagi bagian-bagian besar.
Saya adalah seorang pelupa, persisnya sih tak pernah menjadikan satu momen sebagai sebuah kejadian penting. Tapi hal itu berubah drastis ketika saya menjumpai semester akhir kuliah, tiga tahun lalu. Semua kejadian yang saya anggap biasa seolah-olah berlomba-lomba mengubah wujud menjadi kejadian paling istimewa. Seakan dirongrong oleh banyak kotak momen, akhirnya saya membuat peringkat kejadian terpenting dan teristimewa dalam hidup saya. Kepingan terbesar adalah kaca yang menggambarkan cerita saat kuliah. Tak tahulah, mungkin karena waktunya terbilang masih dekat atau mungkin punya kesan bahwa di masa kuliah pola pikir saya diaduk-aduk dan punya kemantapan yang bertahan hingga kini. Kepingan terbesar kedua yakni masa SMP, coba-coba merokok, coba-coba lihat film porno, disetrap guru yang kebetulan kakak sepupu, dan maling ikan di kolam orang.
Selain itu banyak hal yang saya lupa. Sebelum menulis ini, saya hampir lupa bahwa saya sering sekali tertusuk duri pohon salak. Saat tertusuk duri salak tidak terlalu sakit, tapi jika duri itu menusuk di dalam daging telapak kaki, nyerinya tak habis-habis, terlebih jika duri itu makin dalam karena tekanan saat berjalan. Salah satu cara mengambil duri itu harus dengan 'membedah' telapak kaki dengan jarum. Haha, cerita ini memang tak penting tapi punya sisi baiknya juga.
Cerita-cerita seperti itu jika saya temukan dalam keping-keping memori, bikin saya ingin 'kembali'. Bukan berarti kembali ingin tertusuk duri salak, tapi cerita itu bikin saya ingin kembali bermain di kebun salak untuk sekedar mengingat-ingat apa saja yang pernah saya lakukan dulu. Dari cerita duri salak itu ada jembatan untuk merekatkan kepingan-kepingan cerita yang lain, seperti cerita seringnya saya mengintip orang dari rimbunnya pohon salak atau bersembunyi karena sedang ogah mengaji.
Kemarin, saya bertemu dengan seseorang yang kebetulan menyedot perhatian. Unik, tak sungkan ngocoblak, tak terduga. Saya merasa obrolan kami membuat saya menguar kembali kepingan memori yang terpecah-pecah sangat kecil. Pertemuan dan obrolan itu makin membuat saya ingin merestrukturisasi memori yang sudah terpecah-pecah. Terlebih, sejak mudik lebaran kemarin saya berikrar untuk mencoba merasakan 'kembali' apa yang sudah saya perbuat. Setidaknya menonton lagi jalan cerita kehidupan saya atau kalau bisa berbuat hal yang sama. Aneh memang.
Lalu bagaimana dengan masa depan? Saya tak pesimistis dengan hal itu, setidaknya saya masih punya impian, punya angan-angan, punya kegelisahan, praduga dan ingin yang berangkat dari sistem pikir anak kecil. Sekarang ini saya hanya ingin merasakan 'kembali'. Sah kan jika saya demikian? Karena bagi saya, 'kembali' tak bertentangan dengan masa depan, justru pengembaraan saya untuk 'kembali' bisa jadi masa depan itu sendiri.
"Tommorow we will run faster, stretch out our arms farther. And one fine morning, so we beat on, boats gaints the current, borne back ceaseleely into the past," kata-kata Nick Carraway dalam The Great Gatsby (F Scott Fitzgerald) ini sepertinya tak salah-salah amat. :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar