![]() |
| Mata-mata |
1. Ada celak mengais iba di gigir matanya yang menyipit. Mata itu dikerubungi bulu-bulu tangkas yang menghalau debu-debu. Selintas, mata itu mengapit bayang masa lalu. Sendu.
Aku menemukannya di Pasar Pagi waktu matahari menjilat lorong deretan kios para penjual ikan. Ia menggoyang-goyang bakul nasibnya dengan selembar kain bermotif bunga. Menjaja jamu untuk menjaga raga, sedang ia menuai berkah sebentuk rupiah. Jamu singset, jamu beras kencur, kapulaga. Seutas jemu ia bawa juga.
Kejemuannya bukan pada jamu. Aku duga, kebosanan akut pada garis nasib menggiring serta aib dari suaminya dan dirinya sendiri. Seorang sopir truk yang tak pernah peduli pada rinai tangis kesalnya, pelancong yang tidak mau tahu pada manja inginnya, pemabuk yang menyeretnya pada ribuan kali perkelahian. Ia dan suaminya adalah para petengkar ulung, saban waktu tak henti mereka menengkarkan beragam masalah. Tatap muka, lewat telepon, bahkan mengajak berantem orang suruhan suaminya yang menyampaikan pesan.
2. "Mas tahu, aku sebenarnya tak suka bunga," katanya padaku di pertemuan pertama pagi tadi.
"Lalu, kenapa Mbak Yu pakai selendang bunga-bunga?"
"Aku suka liuk motifnya Mas, indah. Bunganya sih aku gak suka, malah aku lihat terlalu polos. Putih tanpa bercak, tanpa duri, tangkainya pun terlalu lembut." Ia menuangkan jamu galian perkasa yang katanya bakal menambah daya dobrak tenagaku hingga lembur, hingga kasur. Dapat kabar dari mana ia bahwa malam-malamku penuh dengan lendir?
"Aku juga suka tantangan, Mas. Apalah artinya keindahan kalau wujudnya datar, tak ada kelok yang bikin kita deg-degan menyambut apa yang ada di depan. Makanya aku tak pernah marah waktu Kang Pardi pergi jauh tak pulang-pulang. Ya, sebatas kesal saja. Kesal jika tak ada Kang Pardi, aku tak bisa marah. Makanya jika ada temannya yang kasih kabar, aku marahi saja dia seolah memarahi Kang Pardi."
Pardi adalah suami Mbak Yu yang hingga kini belum memberinya buah hati. Padahal usia pernikahan mereka sudah hampir 10 tahun sejak keduanya dijodohkan. Selenting kabar menyebutkan Pardi perkasa di atas ranjang. Kabar ini menguar dari sopir-sopir lain yang sering melihat Pardi memarkir kendaraan logistiknya di warung remang-remang pinggir jalan arah Jakarta. Dari remaja hingga nenek berpoles maskara dan gincu tebal pernah ia garap. Sayangnya, benih yang ditabur Pardi di kebun Mbak Yu belum menuai hasil. Konon, Mbak Yu tandus.
"Mas, mas, sampean harus tahu, banyak laki-laki centil yang mau meniduriku. Tapi aku selalu ogah. Bukan karena Kang Pardi tak perkasa, juga bukan aku tak ingin jika Kang Pardi tak ada. Tidur dengan lelaki lain mudah bagiku, toh Kang Pardi juga sama meniduri wanita-wanita jalang itu. Aku tak mau karena memang tak ada tantangan. Bertemu, senda gurau, ke ranjang, sudah. Selepas itu demikian lagi, enggak ada marah-marahan, enggak ada cemburu-cemburuan. Hambar."
3. Perempuan gila. Mana ada persenggamaan tak melahirkan rasa cemburu. Kepada pelacur yang sering kutiduri saja aku pernah cemburu. Mungkin sedikit kesal karena pelacur itu tak mau meranjang waktu aku tak punya uang, malah menuntun lelaki lain berkantong lebih tebal dan berpakaian licin. Tapi kan aku pelanggan setia pelacur itu.
"Kecemburuan itu Mas, ada jika kamu terlalu percaya bahwa lawan mainmu percaya pada semua yang kamu ucapkan. Jika kamu terlalu curiga, itu juga bukan cemburu. Itu ketakutan."
Ah sinting. Perempuan ini membolak-balikkan otakku. "Apa Mbak Yu pernah tak merasa cemburu waktu mendengar Kang Pardi meniduri orang lain?"
Ia hanya tersenyum. Namun sayangnya, aku menangkap kegetiran di ujung bibirnya yang melengkung. "Oh Mbak Yu selalu cemburu ya?"
"Awalnya aku cemburu besar. Aku merasa yakin jika Kang Pardi akan meninggalkanku selamanya. Tapi ternyata ia kembali." Mbak Yu membusungkan dadanya yang menonjol itu sambil melempar selendang motif bunganya ke balik punggung.
"Bahkan setelah sekian lama aku mendengar kabar dari warung remang-remang itu aku masih cemburu dan tak menerima pengkhiatan ini. Tapi ia balik lagi, dan selalu pulang. Sekarang aku sudah tak percaya lagi jika ada kabar menyebutkan Kang Pardi telah mengawini atau punya anak dari pelacur. Ia hanya pulang kepadaku. Soal dia main serong, itu cuma pengembaraannya, Mas. Toh jika dibandingkan, waktu yang kami jalin lebih kerasa, makanya dia balik."
"Aku cemburu bukan pada Kang Pardi, aku cemburu pada sedikit nasib pelacur-pelacur itu yang didatangi Kang Pardi."
4. Langit kian garang. Mbak Yu nampaknya dipanggil pelanggan lain. Hampir satu jam kami berbicara dan aku hanya meminum segelas jamu dan satu butir telor bebek. Pelanggan baru yang kurang ajar.
"Mbak Yu nanti sore ke mana? Aku ingin jalan-jalan denganmu."
"Wah, sore bagiku waktunya menanti Mas. Menanti apakah Kang Pardi akan pulang malam ini atau tidak." Sial, baru kali ini aku mendapat penolakan dari seorang wanita.
"Ah Mbak Yu ini, nggak bosen apa nunggu terus?"
"Hihihi, menunggu itu tantangan bagiku, Mas. Sama halnya bertengkar dengan Kang Pardi. Menguji kesabaranku, seluas mana cinta ini untuk Kang Pardi. Aku tak bosan melakukannya, yang aku merasa jemu adalah aku tak bisa hidup tanpa Kang Pardi, jemu karena tak ada laki-laki lain yang bisa pulang seperti Kang Pardi. Padahal aku yakin dia sudah mengembara ke ribuan gunung dan kebun wanita."
Suram. Ternyata hidupku yang suram. Mengembara ke mana-mana tapi tak punya tujuan pulang. Aku lupa, celak di mata Mbak Yu telah mengaburkan deliknya berkali-kali yang seolah menertawakan aku. Celak dan deliknya bukan mengais iba, tapi menabur.
"Mas, aku pergi dulu ya. Besok-besok kita ngobrol lagi. Oh iya, jadi kapan punya kebun sendiri? Ndak apa-apa tandus, yang penting ada untuk pulang. Jangan garap terus kebun orang atau kebun liar, nanti dibekuk trantib lho." Ia melenggang dengan senyum dan goyang bokongnya yang menantang nasib laki-laki untuk bisa mengalahkannya.
5. Wanita gila. Awas kamu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar