Ibu dan rumah saling curiga. Menghitung jarak dengan segala sangka. Secangkir hujan tandas entah siapa yang menguras. Rintiknya pun tak tersisa. Daun cangkir bebas dari perkara.
Ibu pergi ke beranda mengemas rinai kedua. Kembali habis. Kali ini pun persis, tak ada yang tahu siapa yang mengikis. Tak ada jejak bianglala di bening kaca. Adu pandang di gelas nyata. Wajah-wajah penuh duga.
Ibu geram tak dinyana. Segalon amarah dimuntahkannya. Serapah berguguran di gendang telinga. "Tak tahukah apa yang kalian tenggak? Sisa tangis almarhum ayahmu, nak!"
Aku pun sempoyongan, mabuk penyesalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar