Pihatur Nyai
Nyai, kita hidupi anak dengan tajin di gelas bambu. Adakah cinta kita kandas seperti dahan nangka tersambar petir? Bahwa yang atas tak segan melumat habis yang bawah, hingga tandas.
Barangkali aku cuma mengelak memiliki harta. Aku emoh menjinakkan jiwa raga demi sesuatu yang tak bisa ku bawa tewas. Pun dirimu, nyai, atau anakmu, anak kita.
Nyai, hujan menyerang genting lapuk gubuk kita. Lamat-lamat, tetesnya membanjiri kasur satu-satunya tempat aku, kamu, dan tiga anak kita merebahkan diri dari pikuk ocehan tetangga. Mereka gila nyai, menyangka kita perlu dikasihani, menduga kita perlu ditanggungi, mendamba kita menjadi kaya. Padahal kau juga mengerti nyai, mereka sengaja menenggelamkan kita dalam setiap bantuannya. Mereka mengulurkan tangan bukan untuk menjait, justru malah menekan kita supaya makin rendah. Lalu mereka bangga dengan apa yang mereka sebut prestasi, bahwa mereka telah makin tinggi, dermawan, padahal aku sudah bilang padamu, mereka hanya dramawan.
Nyai, aku pasti akan rindu. Pada rajuk inginmu, pada kulai tanganmu, pada ambek tersembunyimu, ya Nyai, pada semua hal yang selalu kau embuskan di malam hari. "Kang, anakmu ingin kelereng di warung Bi Cicih. Aku juga kepingin makan sarden kaleng."
Nyai, malam ini kau terlelap dengan gumpalan mimpi yang datang bersemangat, tak sekalipun mimpi itu hinggap di kepalamu dengan cara mengendap. Aku selalu mengetahuinya, Nyai. Memastikannya di pagi hari ketika daun-daun gugur kau sapu dengan bersih. Bercak mimpi kau tuang pada gelung rambutmu, basah bibirmu, bulu kudukmu, dan kerling mata pada Mang Jaya, tukang kredit dari Tasikmalaya. Aku tau, sebelumnya kau pasti mimpi punya piring kaca yang hendak menggantikan piring seng milik kita.
Nyai, jangan kau cari aku pagi ini, pagi esok, atau pagi lusa. Mungkin aku akan lama. Bilang pada Asmarandana, Kinanti, Maskumambang, bapaknya sedang menjadi pendulum. Bahwa air nira kini tak lagi ku sadap jangan pedulikan. Kemarin, tiga pohon aren warisan kakek telah ku gadaikan pada Bos Padri, mungkin ia sudah tak mau hanya menjadi tengkulak, kabarnya ia kini ingin punya pabrik dan mempekerjakan warga desa. Bos Padri sudah menawariku, tapi aku tak mau menjual racikan rahasia milik kakek. Tenanglah Nyai, gula kita tetap paling liket.
Oh ya, dari hasil gadai pohon aren milik kita, Bos Padri memberiku uang tiga juta rupiah. Dengan uang ini aku harap orang yang menempelkan informasi di balai desa dua hari lalu bisa membawaku ke negeri seberang. Ya Nyai, aku pergi. Aku pergi mencari sesuatu yang baru, yang bisa kita banggakan nantinya, yang bisa menjadi pertanda bahwa tetangga kita tak berhak mempertanggungjawabkan kehidupan kita.
Nyai, aku pergi Nyai, tapi tak meninggalkanmu.
Untuk ketiga anak kita, aku selipkan beberapa bekal yang bisa mereka gunakan untuk menjawab lecehan anak-anak juragan di sekolah. Barangnya ada di dapur Nyai, Kujang dari Bao. Ada juga di bilik bambu, Suling Gantung Siwur.Sempatkan menengok ke pohon kokosan, aku juga bawa kerbau yang dulu dihadiahkan ibu saat lahiran Asmarandana. Mungkin tiga barang itu berguna bagi kalian.
Aku cinta kalian, maka aku pergi.
Suamimu,
Niskala Kalamba
Tidak ada komentar:
Posting Komentar