Kamis, 25 Oktober 2012
RIMA DI AKHIR PENDAR
Semua hilang, rima di tiap bagian lakon hidup yang kita buat mengurai. Rima tak kembali, meluruh dalam bening titik hujan yang dicecap tanah. Tak ada lagi pergumulan, tak ada lagi kuntum bunga di lorong percakapan.
Rima tak bisa lagi dibunyikan. Mereka memaksa hasil final. Dengan sejuta dalih, kita dipaksa berjalan di lorong gelap. Tak ada senyap, mulut-mulut bersuara lantang mengekor gendang telinga. Mereka menderu untuk menggugurkan kalkulasi capaian kita.
Kita sudah berteriak saling memanggil, namun nyatanya berjauhan. Yang kita bisa hanya menggigil dan menjerit di kedalaman.
Kala setitik cahaya berpendar, kita harus membuat janji. Kita akan bertemu kembali. Pertemuan itu mungkin menjadi rima di ujung tebing langkah hidupku, atau mungkin juga hidupmu. Tak ada yang tak mungkin.
Mari kita gali lagi tanah paksaan yang menyerap titik hujan pembawa rima lakon hidup kebersamaan. Jika kau mau, aku akan memasukkannya lagi pada rahim awan atau kita lukis saja di atap bukit menjadi bianglala. Siapkan benih harum dari secuil keyakinan lama yang pernah kita pupuk. Biar lorong sempit akhir percakapan ditumbuhi bunga-bunga hingga menjadi taman.
Lalu pulanglah pada mereka, aku tetap di sana. Bagiku ini rima akhir paling indah. Aku tak berharap bertemu siapa pun lagi. Cukup bagiku hanya kamu yang melintas di selasar rasa ini. Kerling matamu, senyum indah di manis kembang bibirmu, letupan tawamu, asin air matamu, hanya itu dunia bagiku. Dan semua bunga di taman percakapan kita, semoga aku bisa merawatnya.
There’s a time and place for one more sweet embrace. And is time, when it all went wrong, I guess you know by now that we will meet again somehow (How - Regina Spektor)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar