Pages

Selasa, 25 September 2012

MEMANJAKAN NYI POHACI ALA KAMPUNG ADAT CISUNGSANG (BAGIAN III-HABIS)



SEKITAR pukul 08.00 WIB, rombongan drumband dari Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Cibeber membuka acara dengan tabuhan alat musik yang memainkan lagu khas masyarakat Sunda 'Sabilulungan'. Selang setengah jam, ibu-ibu warga kasepuhan pun berdendang dengan musik yang dibunyikan melalui alat penumbuk padi tradisional. Seni masyarakat Sunda ini disebut 'Ngagondang'. Lama setelah Ngagondang usai, rombongan tamu yang ditunggu-tunggu tak juga datang. "Mungkin mereka saling menunggu agar bisa berbarengan ke sini," kata Pak Endin, salah satu tokoh di Cibeber. Mereka yang dimaksud Pak Endin adalah perangkat negara yang menjadi tamu khusus acara tersebut.
Suara angklung buhun dan kendang dog-dog lojor bertabuhan seiring datangnya para tamu istimewa di Cisungsang. Para tetamu itu dikawal pula oleh Rendangan yang terdiri dari kaum laki-laki perangkat adat Cisungsang dan perwakilan keluarga Kasepuhan Adat Banten Kidul. Abah Usep pun menerima para tamu dengan tradisi membalut kepala para tamu dengan iket khas Cisungsang. Simbol ini mempunyai arti bahwa pikiran dan hati para tamu harus bersatu diikat dengan adat istiadat. Abah kemudian membawa tamu ke teras atas Ajen. Sementara para rendangan duduk bersila di depan Leuit Si Jimat untuk mengikuti upacara 'Ngadiukken Pare ka Leuit'.
Upacara puncak pun dimulai. Sinden dan pemain musik kacapi suling memainkan sebuah lagu untuk menyambut kedatangan pasangan 'pengantin'. Pasangan 'pengantin' merupakan anak dari Abah Usep. Mereka berjalan mendekati Leuit sambil dikawal para dayang. Di belakangnya, para penandu membawa tiga ikat padi yang terdiri dari padi beras putih, padi beras merah, dan padi  beras hitam berhias bunga, sehelai kain, dan sebilah keris. Para penandu memikul padi sambil 'direngkong' atau 'direreg bari ngawangkong' (dibawa hingga berbunyi). Pikulan padi itu digoyangkan hingga padi bergesek menimbulkan suara khas.
Simbol ini ternyata sarat makna. Menurut Penasihat Kasepuhan Cisungsang, Apih Adeng, pengantin adalah simbol raja dan ratu. Sementara tiga ikat padi berarti tiga dasar kehidupan sosial yang terdiri dari leluhur, pemerintah, dan agama yang bersatu saling mendukung. Bunga yang menghiasnya merupakan simbol kehidupan manusia yang dihiasi dedaunan sehingga cantik dan asri. Adapun selembar kain dan keris melambangkan bahwa kehidupan manusia tak lepas dari pakaian dan alat untuk membantu usahanya. Sedangkan makna simbol para dayang dan cara memikul padi, Apih Adeng berkata, “Nyi Pohaci teh ingin diiring-iring, ingin disoraan (musik), jadi memikulnya harus diayun. Seperti halnya manusia yang diayun, merasa nikmat."
Pengantin dan keluarga kemudian duduk tepat di depan Leuit. Abah Usep pun menyusul dari Ajen setelah meminta izin kepada tetamu untuk melaksanakan bagian dari upacara memasukkan padi ke lumbung. Dalam seremoni itu, Abah Usep sebagai tetua adat secara simbolis menerima hasil panen padi selama kurun waktu setahun dari warga Cisungsang yang diwakili Apih Adeng. Setelah menerima hasil secara simbolis, Abah kemudian memberikan kewenangan kepada petugas upacara Seren Taun, Apih Adhani, untuk membaca doa dan memasukkan padi ke dalam leuit.
Apih Adhani dengan khidmat membacakan aji-ajian di depan tempat pembakaran menyan dan panglay yang mengepul dan menimbulkan aroma khas. Setelah selesai, ia mempersilahkan para rendangan untuk memasukkan padi ke dalam Leuit. Satu persatu ikatan padi di pikulan dibuka yang kemudian dimasukkan ke leuit.
Setelah upacara Ngadiukken Pare ka Leuit selesai, para rendangan berpindah tempat ke Ajen untuk mengikuti musyawarah kecil Abah Usep dengan tetamu khusus dari pemerintah. Sebelum bermusayawarah, paa tetamu khusu disuguhi seni khas warga Banten, silat dan debus. Dalam acara itu  para tetamu dan pengunjung seperti terhipnotis dengan adegan yang menampilkan kebolehannya tak bisa disayat sebilah golok tajam. Sontak para pengunjung dan tamu khusus pun berdecak kagum sambil memberi uang saweran bagi anak kecil itu.
Usai hidangan seni debus itu, tamu khusus memulai acara musyawarah dengan mendengarkan beberapa pidato dari Abah Usep maupun pihak pemerintah. Pada kesempatan ini, Abah Usep bercerita sedikit sejarah tradisi Seren Taun. Selain itu, aia juga sedikit memberi kritik kepada pemerintah yang selama ini seperti acuh tak acuh dengan keberadaan kampung adat. Ia pun meminta agar pemerintah mempunyai peraturan untuk upaya pelestarian ini. Segala kritik Abah langsung dijawab oleh pihak pemerintah. Mereka pun berjanji akan lebih banyak mendukung upaya pelestarian budaya seperti yang dilakukan masyarkat adat di Banten Selatan.
Seremoni puncak 'Ngadiukkeun Pare ka Leuit' selesai sekitar pukul 11.30 WIB. Warga kembali dipersilahkan menikmati makan siang di rumah Abah Usep. Setelah azan Zuhur berlalu, kemeriahan kembali digelar yang kali ini menampilkan seni gamelan Sunda dan beberapa perlombaan. Sebagian pengunjung masih berkumpul, namun sebagian lainnya terutama dari luar kota sudah beranjak pulang. Padahal, hiburan belum usai. Pada malam harinya, pengunjung akan kembali dihibur oleh berbagai penampilan. Di antaranya adalah penampilan artis papan atas ibu kota serta wayang golek yang didatangkan langsung dari Bandung.
Rangkaian upacara Seren Taun sebenarnya belum tuntas. Esok harinya, masih ada satu acara lagi yang menjadi penutup rangkaian festival ini. Ritual ini paling sakral dalam Seren Taun. Ritual itu berlangsung pada hari Senin, dimulai pada pukul 14.00 WIB dan berakhir pukul 16.00 WIB. Apih Adeng menyatakan bahwa ritual Seren Taun yang dianggap sakral itu tidak boleh diketahui masyarakat luas dan tidak boleh diabadikan lewat kamera apa pun. Yang mengikuti ritual Seren Taun sakral ini hanya pejabat dari Kasepuhan Cisungsang, mereka berjumlah delapan orang.
"Sebenarnya mah acara Seren Taun paling sakral itu hari Senin. Yang ada dalam ritual seren taun ini hanya delapan orang dengan sembilan tugas di antaranya dukun, paraji, bengkong, amil, panei, kakak dari Abah yang mewakili Ibu dari Abah, wakil Kasepuhan, Apih, dan Abah sendiri. Kesembilan tugas itu melambangkan Wali Songo. Upacara di luar hari Senin itu hanya formalitas,” katanya.
Seren Taun merupakan bagian dari ritual warga dalam 'Ngamumule Pare' (menjaga padi) yang terdiri dari beberapa ritus. Ritual pertama warga Cisungsang dalam Ngamumule Pare adalah Nibakeun Sri ka Bumi yang dilakukan pada saat akan menyebar benih. Kedua, ritual 'Ngamitkeun Sri ti Bumi' yang dilaksanakan sebelum memetik atau menuai hasil panen. Setelah panen, warga akan melakukan ritual 'Ngunjal' menyimpan penyimpanan padi ke leuit setelah dikeringkan.
Setelah padi hasil panen tersimpan di leuit, warga menggelar upacara Seren Taun yang berlangsung selama tujuh hari. Waktu perayaan ini merupakan yang terpanjang dari semua upacara yang diselenggarakan masyarakat Kasepuhan Banten Kidul maupun kasepuhan Sunda lainnya.
Di Cisungsang, Seren Taun akan dimulai dengan  upacara 'Rasul Pare di Leuit' yang dalam pelaksanannya mempersembahkan tumpeng rasul dan bakakak ayam jantan berwarna kuning keemasan. Dalam seminggu beberapa upacara adat pun dilakukan, salah satunya Ngadiukkeun Pare ka Leuit yang berarti mengarak padi menuju lumbung utama Si Jimat. Sementara ritual Seren Taun paling sakral dilakukan di akhir rangkaian acara selama tujuh hari itu.
Meski Ngunjal dan Seren Taun terkesan hampir sama, namun kedua upacara ini memiliki perbedaan yang signifikan. Menurut warga Cisungsang, upacara Ngunjal dilaksanakan tanpa ingar-bingar. Ngunjal digelar dengan 'ngarerepeh' dan tanpa perhitungan pasti atau hanya melalui wangsit. Namun, biasanya dilakukan sebulan sebelum Seren Taun.
Antropolog terkenal Clifford Geertz mengatakan bahwa upacara tradisional umumnya bertujuan untuk menghormati, mensyukuri, memuja, dan meminta keselamatan pada roh-roh leluhur mereka. Adanya ritus atau upacara itu merupakan suatu usaha manusia untuk mencari keselamatan dan sekaligus menjaga kelestarian alam. Aktivitas ritus dipandang sebagai usaha manusia meletakkan jembatan antara dunia manusia dengan leluhur, agar mereka mendapatkan berkah keselamatan.
Prinsip itu juga diyakini warga Cisungsang sehingga melaksanakan upacara tradisional Seren Taun dan upacara adat lainnya. Segudang harapan pun dilontarkan dalam setiap ajian yang dibacakan pada semua ritual. Harapan itu terdengar sederhana. Selain Nyi Pohaci tetap menyuburkan tanah sehingga padi menuai hasil melimpah, harapan warga Cisungsang yang utama adalah seluruh adat istiadat yang menjadi warisan para leluhur tidak hilang dan ditinggalkan warganya.
Walaupun tak bisa melihat upacara sakral itu, toh para pengunjung telah dihibur oleh berbagai acara tradisi dan hiburan yang berlangsung selama seminggu. Seren Taun pun bak pelepas dahaga bagi Urang Sunda yang ingin mengenal lebih dekat asal-usul leluhurnya. Apalagi Seren Taun sarat dengan makna yang menggambarkan kehidupan leluhur yang rukun dengan balutan tradisi adat. Seren Taun juga mencerminkan rasa ‘silih asah, silih asih, silih asuh’ dan sikap gotong royong yang kuat di antara manusia.
Seperti peribahasa yang menjadi tema Seren Taun Cisungsang kali ini 'Ulah paluhur-luhur tungtung, pagirang-girang tampian. Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak, hayu urang paheuyeuk-heuyeuk leungeun sarerea' yang bermakna jangan meninggikan status sosial dan berebut kekuasaan, lebih baik mengeratkan lengan bersama ke tempat tujuan. Sebuah tema yang dirasa pas ketika zaman kian mengagungkan sikap individual seperti saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar