SEKITAR pukul 08.00 WIB, rombongan drumband dari Sekolah Menengah
Pertama Negeri (SMPN) 4 Cibeber membuka acara dengan tabuhan alat musik yang
memainkan lagu khas masyarakat Sunda 'Sabilulungan'. Selang setengah jam,
ibu-ibu warga kasepuhan pun berdendang dengan musik yang dibunyikan melalui
alat penumbuk padi tradisional. Seni masyarakat Sunda ini disebut 'Ngagondang'.
Lama setelah Ngagondang usai, rombongan tamu yang ditunggu-tunggu tak juga
datang. "Mungkin mereka saling menunggu agar bisa berbarengan ke
sini," kata Pak Endin, salah satu tokoh di Cibeber. Mereka yang dimaksud
Pak Endin adalah perangkat negara yang menjadi tamu khusus acara tersebut.
Suara angklung buhun dan kendang dog-dog
lojor bertabuhan seiring datangnya para tamu istimewa di Cisungsang. Para
tetamu itu dikawal pula oleh Rendangan yang terdiri dari kaum laki-laki
perangkat adat Cisungsang dan perwakilan keluarga Kasepuhan Adat Banten Kidul.
Abah Usep pun menerima para tamu dengan tradisi membalut kepala para tamu
dengan iket khas Cisungsang. Simbol ini mempunyai arti bahwa pikiran dan hati
para tamu harus bersatu diikat dengan adat istiadat. Abah kemudian membawa tamu
ke teras atas Ajen. Sementara para rendangan duduk bersila di depan Leuit Si
Jimat untuk mengikuti upacara 'Ngadiukken Pare ka Leuit'.
Upacara puncak pun dimulai. Sinden dan
pemain musik kacapi suling memainkan sebuah lagu untuk menyambut kedatangan
pasangan 'pengantin'. Pasangan 'pengantin' merupakan anak dari Abah Usep.
Mereka berjalan mendekati Leuit sambil dikawal para dayang. Di belakangnya,
para penandu membawa tiga ikat padi yang terdiri dari padi beras putih, padi
beras merah, dan padi beras hitam
berhias bunga, sehelai kain, dan sebilah keris. Para penandu memikul padi
sambil 'direngkong' atau 'direreg bari ngawangkong' (dibawa hingga berbunyi).
Pikulan padi itu digoyangkan hingga padi bergesek menimbulkan suara khas.
Simbol ini ternyata sarat makna. Menurut
Penasihat Kasepuhan Cisungsang, Apih Adeng, pengantin adalah simbol raja dan
ratu. Sementara tiga ikat padi berarti tiga dasar kehidupan sosial yang terdiri
dari leluhur, pemerintah, dan agama yang bersatu saling mendukung. Bunga yang
menghiasnya merupakan simbol kehidupan manusia yang dihiasi dedaunan sehingga
cantik dan asri. Adapun selembar kain dan keris melambangkan bahwa kehidupan
manusia tak lepas dari pakaian dan alat untuk membantu usahanya. Sedangkan
makna simbol para dayang dan cara memikul padi, Apih Adeng berkata, “Nyi Pohaci
teh ingin diiring-iring, ingin disoraan (musik), jadi memikulnya harus diayun.
Seperti halnya manusia yang diayun, merasa nikmat."
Pengantin dan keluarga kemudian duduk tepat
di depan Leuit. Abah Usep pun menyusul dari Ajen setelah meminta izin kepada
tetamu untuk melaksanakan bagian dari upacara memasukkan padi ke lumbung. Dalam
seremoni itu, Abah Usep sebagai tetua adat secara simbolis menerima hasil panen
padi selama kurun waktu setahun dari warga Cisungsang yang diwakili Apih Adeng.
Setelah menerima hasil secara simbolis, Abah kemudian memberikan kewenangan
kepada petugas upacara Seren Taun, Apih Adhani, untuk membaca doa dan
memasukkan padi ke dalam leuit.
Apih Adhani dengan khidmat membacakan
aji-ajian di depan tempat pembakaran menyan dan panglay yang mengepul dan
menimbulkan aroma khas. Setelah selesai, ia mempersilahkan para rendangan untuk
memasukkan padi ke dalam Leuit. Satu persatu ikatan padi di pikulan dibuka yang
kemudian dimasukkan ke leuit.
Setelah upacara
Ngadiukken Pare ka Leuit selesai, para rendangan berpindah tempat ke Ajen untuk
mengikuti musyawarah kecil Abah Usep dengan tetamu khusus dari pemerintah. Sebelum
bermusayawarah, paa tetamu khusu disuguhi seni khas warga Banten, silat dan
debus. Dalam acara itu para tetamu dan
pengunjung seperti terhipnotis dengan adegan yang menampilkan kebolehannya tak
bisa disayat sebilah golok tajam. Sontak para pengunjung dan tamu khusus pun
berdecak kagum sambil memberi uang saweran bagi anak kecil itu.
Usai hidangan seni
debus itu, tamu khusus memulai acara musyawarah dengan mendengarkan beberapa
pidato dari Abah Usep maupun pihak pemerintah. Pada kesempatan ini, Abah Usep bercerita
sedikit sejarah tradisi Seren Taun. Selain itu, aia juga sedikit memberi kritik
kepada pemerintah yang selama ini seperti acuh tak acuh dengan keberadaan
kampung adat. Ia pun meminta agar pemerintah mempunyai peraturan untuk upaya
pelestarian ini. Segala kritik Abah langsung dijawab oleh pihak pemerintah.
Mereka pun berjanji akan lebih banyak mendukung upaya pelestarian budaya
seperti yang dilakukan masyarkat adat di Banten Selatan.
Seremoni puncak
'Ngadiukkeun Pare ka Leuit' selesai sekitar pukul 11.30 WIB. Warga kembali
dipersilahkan menikmati makan siang di rumah Abah Usep. Setelah azan Zuhur
berlalu, kemeriahan kembali digelar yang kali ini menampilkan seni gamelan
Sunda dan beberapa perlombaan. Sebagian pengunjung masih berkumpul, namun
sebagian lainnya terutama dari luar kota sudah beranjak pulang. Padahal,
hiburan belum usai. Pada malam harinya, pengunjung akan kembali dihibur oleh
berbagai penampilan. Di antaranya adalah penampilan artis papan atas ibu kota
serta wayang golek yang didatangkan langsung dari Bandung.
Rangkaian upacara
Seren Taun sebenarnya belum tuntas. Esok harinya, masih ada satu acara lagi
yang menjadi penutup rangkaian festival ini. Ritual ini paling sakral dalam
Seren Taun. Ritual itu berlangsung pada hari Senin, dimulai pada pukul 14.00
WIB dan berakhir pukul 16.00 WIB. Apih Adeng menyatakan bahwa ritual Seren Taun
yang dianggap sakral itu tidak boleh diketahui masyarakat luas dan tidak boleh
diabadikan lewat kamera apa pun. Yang mengikuti ritual Seren Taun sakral ini
hanya pejabat dari Kasepuhan Cisungsang, mereka berjumlah delapan orang.
"Sebenarnya mah
acara Seren Taun paling sakral itu hari Senin. Yang ada dalam ritual seren taun
ini hanya delapan orang dengan sembilan tugas di antaranya dukun, paraji,
bengkong, amil, panei, kakak dari Abah yang mewakili Ibu dari Abah, wakil
Kasepuhan, Apih, dan Abah sendiri. Kesembilan tugas itu melambangkan Wali
Songo. Upacara di luar hari Senin itu hanya formalitas,” katanya.
Seren Taun merupakan
bagian dari ritual warga dalam 'Ngamumule Pare' (menjaga padi) yang terdiri
dari beberapa ritus. Ritual pertama warga Cisungsang dalam Ngamumule Pare
adalah Nibakeun Sri ka Bumi yang dilakukan pada saat akan menyebar benih.
Kedua, ritual 'Ngamitkeun Sri ti Bumi' yang dilaksanakan sebelum memetik atau
menuai hasil panen. Setelah panen, warga akan melakukan ritual 'Ngunjal'
menyimpan penyimpanan padi ke leuit setelah dikeringkan.
Setelah padi hasil
panen tersimpan di leuit, warga menggelar upacara Seren Taun yang berlangsung
selama tujuh hari. Waktu perayaan ini merupakan yang terpanjang dari semua
upacara yang diselenggarakan masyarakat Kasepuhan Banten Kidul maupun kasepuhan
Sunda lainnya.
Di Cisungsang, Seren
Taun akan dimulai dengan upacara 'Rasul
Pare di Leuit' yang dalam pelaksanannya mempersembahkan tumpeng rasul dan
bakakak ayam jantan berwarna kuning keemasan. Dalam seminggu beberapa upacara
adat pun dilakukan, salah satunya Ngadiukkeun Pare ka Leuit yang berarti
mengarak padi menuju lumbung utama Si Jimat. Sementara ritual Seren Taun paling
sakral dilakukan di akhir rangkaian acara selama tujuh hari itu.
Meski Ngunjal dan
Seren Taun terkesan hampir sama, namun kedua upacara ini memiliki perbedaan
yang signifikan. Menurut warga Cisungsang, upacara Ngunjal dilaksanakan tanpa
ingar-bingar. Ngunjal digelar dengan 'ngarerepeh' dan tanpa perhitungan pasti
atau hanya melalui wangsit. Namun, biasanya dilakukan sebulan sebelum Seren
Taun.
Antropolog terkenal Clifford
Geertz mengatakan bahwa upacara tradisional umumnya bertujuan untuk
menghormati, mensyukuri, memuja, dan meminta keselamatan pada roh-roh leluhur
mereka. Adanya ritus atau upacara itu merupakan suatu usaha manusia untuk
mencari keselamatan dan sekaligus menjaga kelestarian alam. Aktivitas ritus
dipandang sebagai usaha manusia meletakkan jembatan antara dunia manusia dengan
leluhur, agar mereka mendapatkan berkah keselamatan.
Prinsip itu juga
diyakini warga Cisungsang sehingga melaksanakan upacara tradisional Seren Taun
dan upacara adat lainnya. Segudang harapan pun dilontarkan dalam setiap ajian
yang dibacakan pada semua ritual. Harapan itu terdengar sederhana. Selain Nyi
Pohaci tetap menyuburkan tanah sehingga padi menuai hasil melimpah, harapan
warga Cisungsang yang utama adalah seluruh adat istiadat yang menjadi warisan
para leluhur tidak hilang dan ditinggalkan warganya.
Walaupun tak bisa
melihat upacara sakral itu, toh para pengunjung telah dihibur oleh berbagai
acara tradisi dan hiburan yang berlangsung selama seminggu. Seren Taun pun bak pelepas
dahaga bagi Urang Sunda yang ingin mengenal lebih dekat asal-usul leluhurnya.
Apalagi Seren Taun sarat dengan makna yang menggambarkan kehidupan leluhur yang
rukun dengan balutan tradisi adat. Seren Taun juga mencerminkan rasa ‘silih
asah, silih asih, silih asuh’ dan sikap gotong royong yang kuat di antara
manusia.
Seperti peribahasa
yang menjadi tema Seren Taun Cisungsang kali ini 'Ulah paluhur-luhur tungtung,
pagirang-girang tampian. Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak, hayu urang
paheuyeuk-heuyeuk leungeun sarerea' yang bermakna jangan meninggikan status
sosial dan berebut kekuasaan, lebih baik mengeratkan lengan bersama ke tempat
tujuan. Sebuah tema yang dirasa pas ketika zaman kian mengagungkan sikap
individual seperti saat ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar