DEDAUNAN masih berselimut embun ketika
matahari mulai menampakkan diri. Cahayanya mampu menciptakan bianglala di titik
embun yang mulai membias entah ke mana. Kampung Adat Cisungsang mulai bergeliat
lagi setelah malam sebelumnya dihentakkan kaki para pengunjung yang menikmati
ragam hiburan untuk memeriahkan Festival Seren Taun Cisungsang 2012.
Minggu (23/9) adalah
hari di mana puncak acara selama sepekan digelar. Di dapur rumah besar milik
Abah Usep, ibu-ibu seakan tiada henti memasak makanan yang akan dihidangkan
untuk para pengunjung. Di luar, para lelaki muda dan tua juga tak kalah gesit.
Dengan cekatan, mereka mempersiapkan segala hal untuk puncak pesta Seren Taun.
Ada yang menyembelih hewan untuk persediaan makanan, ada yang membereskan Ajen,
ada juga yang menyiapkan ikatan-ikatan padi yang akan menjadi simbol utama
upacara puncak Seren Taun, Ngadiukkeun
Pare ka Leuit (memasukkan padi ke lumbung).
Upacara ini dipercaya
warga sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajajaran atau sekitar abad kedelapan
masehi. Upacara ini juga digelar oleh masyarakat Sunda lainnya di berbagai
tempat seperti warga Ciptagelar di Sukabumi, warga Sindangbarang di Kabupaten
Bogor, warga Desa Cigugur di Kuningan, dan masih banyak lagi. Untuk warga
Cisungsang, tradisi Seren Taun mengingatkan mereka pada legenda terbentuknya
kampung adat itu.
Warga kampung percaya
Cisungsang didirikan oleh anak Prabu Siliwangi yang bernama Prabu
Walangsungsang yang telah mengalami situasi Ilang
Galuh Pajajaran. Raja ini telah memberikan banyak keturunan bagi masyarakat
Sunda yang tersebar di hampir seluruh daerah Jawa Barat.
Konon, kata Cisungsang
juga dibentuk dari dua suku kata, ci
dan sungsang. Secara harfiah kata ci
adalah bentuk singkat dari cai dalam
bahasa Sunda, yang berarti air. Sedangkan sungsang,
dalam bahasa Sunda berarti terbalik atau berlawanan dari keadaan yang sudah
lazim. Maka istilah Cisungsang dapat diartikan air yang mengalir kembali ke
hulu (mengalir secara terbalik).
Warga Kampung
Cisungsang percaya bahwa kampung mereka merupakan desa pertama yang dibuka oleh
Walangsunsang. Mereka menyebutnya dengan istilah Guru Cucuk. Apih Jampana, salah satu sesepuh Cisungsang mengatakan
wilayahnya merupakan lahan hutan yang dipilih oleh para leluhur untuk dijadikan
tempat tinggal. Itulah alasan mengapa desa adat Cisungsang disebut desa
kasepuhan Banten kidul atau kesatuan adat Banten kidul. Sedangkan kampung adat
lain dalam keluarga Kasepuhan Banten Kidul seperti Ciptagelar, Cicarucub,
Citorek, dan lainnya adalah perluasan dari
Cisungsang.
“Yang menjadi pusat Kasepuhan Banten
Kidul itu adalah Kasepuhan Cisungsang. Alasannya, tidak ada yang berani
memulai, dari menanam padi, memanen hasil padi. Ciptagelar, Cicarucub, atau
desa adat yang lain itu diatur oleh Kasepuhan Cisungsang dalam ritual pertaniannya.
Ceritanya, ada buyut (Citorek), pantrang (Cicarucub), pamali (Ciptagelar),
Kasepuhan Cisungsang lah yang mengaturnya,” kata Apih Adeng pada satu
kesempatan.
Hal ini pun diamini
Abah Usep. Pada pidato yang mengawali musayawarah warga adat Cisungsang dengan
pemerintah di sela-sela acara Seren Taun, Abah Usep mengakatakan bahwa antara
Cisungsang dan kasepuhan adat Banten Kidul lainnya adalah satu rumpun. Menurut
Abah Usep, sejarah awal berdirinya kasepuhan adat Banten Kidul dimulai dengan
musyarawah para sesepuh pada zaman dahulu. Dari musayawarah itu, tercipta Lima
turunan mandiri kasepuhan adat di seputar Banten selatan. Satu kasepuhan berada
di daerah Bayah, sedangakan saudara serumpun tercipta di daerah lainnya.
Saudara serumpun itu dibagi menjadi dua istilah yaitu dulur awewe (saudara perempuan) dan dulur lalaki (saudara lelaki).
“Dulur awewe kasepuhan Banten Kidul adalah Cicarucub dan Citorek.
Sedangkan dulur lalaki adalah
Cisungsang dan Ciptagelar. Dari kesemuanya yang paling besar adalah Cisungsang.
Sedangkan Ciptagelar adalah satu-satunya yang berada di wilayah Jawa Barat.
Tapi kedudukan semuanya sama,” kata keturunan keempat pemimpin Cisungsang itu.
Karena tinggal di
pegunungan, maka tak heran jika leluhur keturunan Kerajaan Pajajaran di
Cisungsang adalah masyarakat agraris yang mengandalkan cocok tanam, terutama
padi. Dari berbagai legenda masyarakat agraris di Nusantara, keberadaan Dewi
Sri sangat disakralkan. Tak terkecuali, para leluhur Sunda yang dahulu
mengamalkan keyakinan Sunda Wiwitan dan Hindu. Meski kini sebagian besar
masyarakat Sunda beragama Islam, namun warga adat seperti di Kampung Cisungsang
masih meyakini keberadaan Dewi Sri, yang dalam masyaraat Sunda disebut Nyi
Pohaci, sebagai lambang kesuburan.
“Menurut dongeng dari
para leluhur, Dewi Sri atau Saripohaci mau tinggal di Cisungsang asal Dewi Sri
dihormati, diraramekeun (dihibur),
dimanjakan oleh masyarakat. oleh karena itulah Seren Taun itu muncul, untuk menghormati Dewi Sri yang kami percaya,”
kata Aki Jampana.
Bersambung…



Tidak ada komentar:
Posting Komentar