Pages

Selasa, 25 September 2012

MEMANJAKAN NYI POHACI ALA KAMPUNG ADAT CISUNGSANG (BAGIAN II)


DEDAUNAN masih berselimut embun ketika matahari mulai menampakkan diri. Cahayanya mampu menciptakan bianglala di titik embun yang mulai membias entah ke mana. Kampung Adat Cisungsang mulai bergeliat lagi setelah malam sebelumnya dihentakkan kaki para pengunjung yang menikmati ragam hiburan untuk memeriahkan Festival Seren Taun Cisungsang 2012.
Minggu (23/9) adalah hari di mana puncak acara selama sepekan digelar. Di dapur rumah besar milik Abah Usep, ibu-ibu seakan tiada henti memasak makanan yang akan dihidangkan untuk para pengunjung. Di luar, para lelaki muda dan tua juga tak kalah gesit. Dengan cekatan, mereka mempersiapkan segala hal untuk puncak pesta Seren Taun. Ada yang menyembelih hewan untuk persediaan makanan, ada yang membereskan Ajen, ada juga yang menyiapkan ikatan-ikatan padi yang akan menjadi simbol utama upacara puncak Seren Taun, Ngadiukkeun Pare ka Leuit (memasukkan padi ke lumbung).
Upacara ini dipercaya warga sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajajaran atau sekitar abad kedelapan masehi. Upacara ini juga digelar oleh masyarakat Sunda lainnya di berbagai tempat seperti warga Ciptagelar di Sukabumi, warga Sindangbarang di Kabupaten Bogor, warga Desa Cigugur di Kuningan, dan masih banyak lagi. Untuk warga Cisungsang, tradisi Seren Taun mengingatkan mereka pada legenda terbentuknya kampung adat itu.
Warga kampung percaya Cisungsang didirikan oleh anak Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Walangsungsang yang telah mengalami situasi Ilang Galuh Pajajaran. Raja ini telah memberikan banyak keturunan bagi masyarakat Sunda yang tersebar di hampir seluruh daerah Jawa Barat.
Konon, kata Cisungsang juga dibentuk dari dua suku kata, ci dan sungsang. Secara harfiah kata ci adalah bentuk singkat dari cai dalam bahasa Sunda, yang berarti air. Sedangkan sungsang, dalam bahasa Sunda berarti terbalik atau berlawanan dari keadaan yang sudah lazim. Maka istilah Cisungsang dapat diartikan air yang mengalir kembali ke hulu (mengalir secara terbalik).
Warga Kampung Cisungsang percaya bahwa kampung mereka merupakan desa pertama yang dibuka oleh Walangsunsang. Mereka menyebutnya dengan istilah Guru Cucuk. Apih Jampana, salah satu sesepuh Cisungsang mengatakan wilayahnya merupakan lahan hutan yang dipilih oleh para leluhur untuk dijadikan tempat tinggal. Itulah alasan mengapa desa adat Cisungsang disebut desa kasepuhan Banten kidul atau kesatuan adat Banten kidul. Sedangkan kampung adat lain dalam keluarga Kasepuhan Banten Kidul seperti Ciptagelar, Cicarucub, Citorek, dan lainnya adalah perluasan  dari Cisungsang.
“Yang menjadi pusat Kasepuhan Banten Kidul itu adalah Kasepuhan Cisungsang. Alasannya, tidak ada yang berani memulai, dari menanam padi, memanen hasil padi. Ciptagelar, Cicarucub, atau desa adat yang lain itu diatur oleh Kasepuhan Cisungsang dalam ritual pertaniannya. Ceritanya, ada buyut (Citorek), pantrang (Cicarucub), pamali (Ciptagelar), Kasepuhan Cisungsang lah yang mengaturnya,” kata Apih Adeng pada satu kesempatan.
Hal ini pun diamini Abah Usep. Pada pidato yang mengawali musayawarah warga adat Cisungsang dengan pemerintah di sela-sela acara Seren Taun, Abah Usep mengakatakan bahwa antara Cisungsang dan kasepuhan adat Banten Kidul lainnya adalah satu rumpun. Menurut Abah Usep, sejarah awal berdirinya kasepuhan adat Banten Kidul dimulai dengan musyarawah para sesepuh pada zaman dahulu. Dari musayawarah itu, tercipta Lima turunan mandiri kasepuhan adat di seputar Banten selatan. Satu kasepuhan berada di daerah Bayah, sedangakan saudara serumpun tercipta di daerah lainnya. Saudara serumpun itu dibagi menjadi dua istilah yaitu dulur awewe (saudara perempuan) dan dulur lalaki (saudara lelaki).
Dulur awewe kasepuhan Banten Kidul adalah Cicarucub dan Citorek. Sedangkan dulur lalaki adalah Cisungsang dan Ciptagelar. Dari kesemuanya yang paling besar adalah Cisungsang. Sedangkan Ciptagelar adalah satu-satunya yang berada di wilayah Jawa Barat. Tapi kedudukan semuanya sama,” kata keturunan keempat pemimpin Cisungsang itu.
Karena tinggal di pegunungan, maka tak heran jika leluhur keturunan Kerajaan Pajajaran di Cisungsang adalah masyarakat agraris yang mengandalkan cocok tanam, terutama padi. Dari berbagai legenda masyarakat agraris di Nusantara, keberadaan Dewi Sri sangat disakralkan. Tak terkecuali, para leluhur Sunda yang dahulu mengamalkan keyakinan Sunda Wiwitan dan Hindu. Meski kini sebagian besar masyarakat Sunda beragama Islam, namun warga adat seperti di Kampung Cisungsang masih meyakini keberadaan Dewi Sri, yang dalam masyaraat Sunda disebut Nyi Pohaci, sebagai lambang kesuburan.
“Menurut dongeng dari para leluhur, Dewi Sri atau Saripohaci mau tinggal di Cisungsang asal Dewi Sri dihormati, diraramekeun (dihibur), dimanjakan oleh masyarakat. oleh karena itulah Seren Taun itu muncul, untuk menghormati Dewi Sri yang kami percaya,” kata Aki Jampana.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar