Pages

Selasa, 25 September 2012

MEMANJAKAN NYI POHACI ALA KAMPUNG ADAT CISUNGSANG (BAGIAN I)



SENJA sore masih menggantung di langit kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak kala hari mulai beranjak pergi. Sayup-sayup suara azan Magrib menggema ketika awan menggelap di Cisungsang. Desa di ujung Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, itu siap menyambut malam, yang juga berarti menyambut para tetamu pesta akbar purba yang digelar tiap tahun. Namanya Seren Taun.
Di sisi jalan berbatu menuju pusat kampung, barisan tenda pedagang berterpal biru menghalangi lanskap panorama lembah dan bukit-bukit menghijau yang menjadi pagar alami desa di ujung selatan Provinsi Banten tersebut. Tenda-tenda itu memanjang sejauh 500 meter di jalan menuju pusat Kampung Adat Cisungsang.
Tak hanya para pedagang, ribuan pengunjung beserta kendaraannya memacetkan sepanjang jalan kecil berdindingkan tebing merah. Apalagi, saat itu Sabtu malam (21/9), malam di mana panggung hiburan bertebaran di pusat Kampung Adat Cisungsang.
Kampung Cisungsang terletak persis di kaki kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Tak jauh dari Cisungsang, perbatasan Provinsi Banten dan Jawa Barat mengular dengan sungai sebagai garis yang membelah Kabupaten Lebak dan Sukabumi. Dari ibu kota Rangkasbitung, jarak kampung adat ini sekitar 150 kilometer, sedangkan dari Jakarta sekitar 280 kilometer.
Rumah-rumah di kampung Cisungsang terlihat rapi dengan tata letak kampung yang dinamis. Seluruh rumah warga adat terlihat menghitam dengan atap ijuk dari pohon aren. Rumah-rumah kecil berdiri di antara gawir-gawir (tebing) yang tak terlalu tinggi. Bangunan-bangunan itu  mengapit satu rumah besar dan dua balai pertemuan di bawahnya yang menjadi pusat Kampung Adat Cisungsang. Meski besar, rumah yang menjadi pusat kampung adat itu terlihat sederhana. Dindingnya hanya bilik bambu berwarna kuning dengan teras kayu yang terlihat kecoklatan. Dari permukaan tanah, tinggi teras rumah tak seberapa karena jika dihitung tingginya tak lebih dari 30 centimeter. Memang terlihat sederhana, namun sangat asri. Rumah itu milik Abah Usep Suyatna, tetua Kampung Adat Cisungsang.
Malam itu, di ruang tamu rumah Abah sudah penuh dengan para pengunjung dari berbagai daerah. Puluhan orang juga mengantre untuk mencicipi hidangan yang disediakan tuan rumah di ruangan tengah yang tak berdinding sehingga bisa kelihatan dari luar. Semua yang makan di ruang itu heterogen. Mereka datang dari berbagai daerah, berbagai usia, beda pendidikan, dan beda status sosial lainnya.
Suara azan Isya berkumandang. Menandakan malam makin pekat dihiasi bulan yang tampak muncul setengah wujud. Sepertinya, ia malu memamerkan keindahan di depan Nyi Pohaci yang sedang dibubungah (dibahagiakan) warga Cisungsang. Pengunjung pun makin ramai mengerumun dekat Ajen. Tempat yang sedianya adalah balai pertemuan itu kini berubah. Tempat itu bertransformasi menjadi panggung hiburan yang siap mendendangkan musik dangdut. Di teras atasnya terlihat sejumlah orang dengan alat musik siap beraksi, termasuk empat biduanita yang siap bernyanyi dan bergoyang.
Selain di Ajen, panggung hiburan juga didirikan di lapangan tebing paling atas Kampung Cisungsang. Di situ, grup band anak-anak muda dari berbagai daerah Kecamatan Cibeber hingga Malingping beraksi memamerkan kebolehannya bermain musik. Para aki-nini pun tak mau kalah. Bertempat di panggung kecil tebing paling bawah dekat rumah Abah Usep, kakek-nenek dari berbagai Kasepuhan Adat Banten Kidul dengan khidmat menampilkan seni musik dan tari tradisional Sunda, Dog-dog Lojor. Kesenian ini terdiri kendang bambu dan angklung buhun yang dimainkan para lelaki, berpadu dengan nyanyian dan tari yang dipergakan oleh sinden.
Menurut Pak Endin, salah satu tokoh di daerah tersebut, masuknya unsur-unsur hiburan modern ke dalam rangkaian acara Seren Taun di Cisungsang baru ada pada masa kepemimpinan Abah Usep sekitar 10 tahun lalu. Bagi warga Cisungsang, kata Endin, unsur-unsur hiburan modern itu hanya bumbu yang menjadi hiasan ritual adat sebenarnya agar bisa menarik kaum muda untuk mengenal budaya buhun.
"Ini kan cuma merangsang agar anak muda tahu bahwa Seren Taun itu masih ada di Cisungsang. Setelah mereka tahu, diharapkan ada kelanjutan untuk merawat dan melestarikan adat ini," kata pegawai negeri sipil di Kecamatan Cibeber itu.
Kehadiran beragam hiburan modern itu, lanjut Endin, juga untuk memuaskan dahaga warga yang jarang sekali menikmati langsung hiburan di depan mata. Oleh karena itu, pada penyelenggaraan Festival Seren Taun, pihak Cisungsang menampilkan pula hiburan tersebut selain juga acara ritual utama.
Sejatinya, rangkaian acara Festival Seren Taun Cisungsang 2012 telah digelar sejak Senin 17 September atau sepekan sebelumnya. Berbagai acara digelar untuk meramaikan tradisi adat setelah panen itu.
Seren Taun adalah penghormatan. Upacara ini dilaksanakan masyarakat petani Sunda dalam mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Pemurah atas hasil panen padi yang diberikan-Nya. Terlebih oleh masyarakat yang masih mengaji adat leluhur seperti Kasepuhan Adat Banten Kidul, yang salah satunya adalah warga Kampung Adat Cisungsang.
Seren Taun juga berarti mengagungkan padi. Apih (kakek) Adeng, salah satu sesepuh Kampung Adat Cisungsang mengatakan, inti dari ritual Seren Taun yakni memanjakan padi dengan arak-arakan dan hiburan serta disaksikan oleh masyarakat umum. Karena, ritual ini berhubungan erat dengan Nyi Pohaci atau Dewi Sri sebagai lambang kesuburan dalam keyakinan masyarakat Sunda. Warga adat percaya bahwa tanah akan selalu subur jika ritual ini terus dilakukan sebagai rasa syukur kepada Tuhan.
Meski demikian, kata Apih Adeng, warga tidak migusti atau menuhankan Nyi Pohaci, melainkan mupusti yang artinya memelihara dan merawat alam. Karena mereka percaya bahwa Nyi Pohaci adalah alam itu sendiri, bahkan Nyi Pohaci dilambangkan sebagai pare (padi).
“Masyarakat Adat Kasepuhan Cisungsang sangat mengagungkan padi atau Nyi Pohaci atau Dewi Sri, dewi kesuburan. Namun, mereka tidak memperlakukan Nyi Pohaci seperti manusia memperlakukan Tuhannya, karena mereka hanya migusti kepada Tuhan. Dalam hal ini, mereka hanya mupusti, yakni merawat dan memelihara padi atau Nyi Pohaci agar membawa berkah dan keselamatan bagi manusia," ujar Apih Adeng.
Malam makin larut, para pengunjung masih antusias menyaksikan hingar-bingar hiburan yang ditampilkan di seputaran Cisungsang. Acara hiburan baru berakhir sekitar pukul 01.00 WIB yang menandakan hari sudah berganti menjadi Minggu 23 September, hari di mana rangakaian acara Festival Seren Taun 2012 akan menemui puncaknya. Seluruh pengunjung dan warga beristirahat. Pengunjung dari luar kota biasanya telah mempunyai tempat istirahat yang sudah dipesan sebelumnya. Mereka akan tidur sejenak di rumah-rumah warga atau di mana saja sebelum menyaksikan puncak acara saat matahari menampakkan batang hidungnya.
Bersambung….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar