SENJA sore masih menggantung di
langit kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak kala hari mulai beranjak
pergi. Sayup-sayup suara azan Magrib menggema ketika awan menggelap di
Cisungsang. Desa di ujung Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, itu siap
menyambut malam, yang juga berarti menyambut para tetamu pesta akbar purba yang
digelar tiap tahun. Namanya Seren Taun.
Di sisi jalan berbatu
menuju pusat kampung, barisan tenda pedagang berterpal biru menghalangi lanskap
panorama lembah dan bukit-bukit menghijau yang menjadi pagar alami desa di
ujung selatan Provinsi Banten tersebut. Tenda-tenda itu memanjang sejauh 500
meter di jalan menuju pusat Kampung Adat Cisungsang.
Tak hanya para pedagang, ribuan pengunjung beserta kendaraannya memacetkan sepanjang jalan kecil berdindingkan tebing merah. Apalagi, saat itu Sabtu malam (21/9), malam di mana panggung hiburan bertebaran di pusat Kampung Adat Cisungsang.
Tak hanya para pedagang, ribuan pengunjung beserta kendaraannya memacetkan sepanjang jalan kecil berdindingkan tebing merah. Apalagi, saat itu Sabtu malam (21/9), malam di mana panggung hiburan bertebaran di pusat Kampung Adat Cisungsang.
Kampung Cisungsang terletak
persis di kaki kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Tak jauh dari
Cisungsang, perbatasan Provinsi Banten dan Jawa Barat mengular dengan sungai sebagai garis yang membelah
Kabupaten Lebak dan Sukabumi. Dari ibu kota Rangkasbitung, jarak kampung adat
ini sekitar 150 kilometer, sedangkan dari Jakarta sekitar 280 kilometer.
Rumah-rumah di kampung
Cisungsang terlihat rapi dengan tata letak kampung yang dinamis. Seluruh rumah warga
adat terlihat menghitam dengan atap ijuk dari pohon aren. Rumah-rumah kecil
berdiri di antara gawir-gawir
(tebing) yang tak terlalu tinggi. Bangunan-bangunan itu mengapit satu rumah besar dan dua balai
pertemuan di bawahnya yang menjadi pusat Kampung Adat Cisungsang. Meski besar,
rumah yang menjadi pusat kampung adat itu terlihat sederhana. Dindingnya hanya
bilik bambu berwarna kuning dengan teras kayu yang terlihat kecoklatan. Dari
permukaan tanah, tinggi teras rumah tak seberapa karena jika dihitung tingginya
tak lebih dari 30 centimeter. Memang terlihat sederhana, namun sangat asri.
Rumah itu milik Abah Usep Suyatna, tetua Kampung Adat Cisungsang.
Malam itu, di ruang
tamu rumah Abah sudah penuh dengan para pengunjung dari berbagai daerah. Puluhan
orang juga mengantre untuk mencicipi hidangan yang disediakan tuan rumah di
ruangan tengah yang tak berdinding sehingga bisa kelihatan dari luar. Semua
yang makan di ruang itu heterogen. Mereka datang dari berbagai daerah, berbagai
usia, beda pendidikan, dan beda status sosial lainnya.
Suara azan Isya berkumandang. Menandakan
malam makin pekat dihiasi bulan yang tampak muncul setengah wujud. Sepertinya,
ia malu memamerkan keindahan di depan Nyi Pohaci yang sedang dibubungah (dibahagiakan) warga Cisungsang.
Pengunjung pun makin ramai mengerumun dekat Ajen. Tempat yang sedianya adalah
balai pertemuan itu kini berubah. Tempat itu bertransformasi menjadi panggung
hiburan yang siap mendendangkan musik dangdut. Di teras atasnya terlihat
sejumlah orang dengan alat musik siap beraksi, termasuk empat biduanita yang
siap bernyanyi dan bergoyang.
Selain di Ajen,
panggung hiburan juga didirikan di lapangan tebing paling atas Kampung
Cisungsang. Di situ, grup band anak-anak muda dari berbagai daerah Kecamatan
Cibeber hingga Malingping beraksi memamerkan kebolehannya bermain musik. Para aki-nini pun tak mau kalah. Bertempat di
panggung kecil tebing paling bawah dekat rumah Abah Usep, kakek-nenek dari
berbagai Kasepuhan Adat Banten Kidul dengan khidmat menampilkan seni musik dan
tari tradisional Sunda, Dog-dog Lojor. Kesenian ini terdiri kendang bambu dan
angklung buhun yang dimainkan para lelaki, berpadu dengan nyanyian dan tari
yang dipergakan oleh sinden.
Menurut Pak Endin,
salah satu tokoh di daerah tersebut, masuknya unsur-unsur hiburan modern ke
dalam rangkaian acara Seren Taun di Cisungsang baru ada pada masa kepemimpinan
Abah Usep sekitar 10 tahun lalu. Bagi warga Cisungsang, kata Endin, unsur-unsur
hiburan modern itu hanya bumbu yang menjadi hiasan ritual adat sebenarnya agar
bisa menarik kaum muda untuk mengenal budaya buhun.
"Ini kan cuma
merangsang agar anak muda tahu bahwa Seren Taun itu masih ada di Cisungsang.
Setelah mereka tahu, diharapkan ada kelanjutan untuk merawat dan melestarikan
adat ini," kata pegawai negeri sipil di Kecamatan Cibeber itu.
Kehadiran beragam
hiburan modern itu, lanjut Endin, juga untuk memuaskan dahaga warga yang jarang
sekali menikmati langsung hiburan di depan mata. Oleh karena itu, pada
penyelenggaraan Festival Seren Taun, pihak Cisungsang menampilkan pula hiburan
tersebut selain juga acara ritual utama.
Sejatinya, rangkaian
acara Festival Seren Taun Cisungsang 2012 telah digelar sejak Senin 17
September atau sepekan sebelumnya. Berbagai acara digelar untuk meramaikan
tradisi adat setelah panen itu.
Seren
Taun adalah penghormatan. Upacara ini
dilaksanakan masyarakat petani Sunda dalam mengungkapkan rasa syukur kepada
Tuhan Yang Maha Pemurah atas hasil panen padi yang diberikan-Nya. Terlebih oleh
masyarakat yang masih mengaji adat leluhur seperti Kasepuhan Adat Banten Kidul,
yang salah satunya adalah warga Kampung Adat Cisungsang.
Seren
Taun juga berarti mengagungkan padi. Apih (kakek) Adeng, salah satu sesepuh
Kampung Adat Cisungsang mengatakan, inti dari ritual Seren Taun yakni memanjakan padi dengan arak-arakan dan hiburan
serta disaksikan oleh masyarakat umum. Karena, ritual ini berhubungan erat
dengan Nyi Pohaci atau Dewi Sri sebagai lambang kesuburan dalam keyakinan
masyarakat Sunda. Warga adat percaya bahwa tanah akan selalu subur jika ritual
ini terus dilakukan sebagai rasa syukur kepada Tuhan.
Meski demikian, kata
Apih Adeng, warga tidak migusti atau
menuhankan Nyi Pohaci, melainkan mupusti
yang artinya memelihara dan merawat alam. Karena mereka percaya bahwa Nyi
Pohaci adalah alam itu sendiri, bahkan Nyi Pohaci dilambangkan sebagai pare (padi).
“Masyarakat Adat
Kasepuhan Cisungsang sangat mengagungkan padi atau Nyi Pohaci atau Dewi Sri,
dewi kesuburan. Namun, mereka tidak memperlakukan Nyi Pohaci seperti manusia
memperlakukan Tuhannya, karena mereka hanya migusti
kepada Tuhan. Dalam hal ini, mereka hanya mupusti,
yakni merawat dan memelihara padi atau Nyi Pohaci agar membawa berkah dan
keselamatan bagi manusia," ujar Apih Adeng.
Malam makin larut,
para pengunjung masih antusias menyaksikan hingar-bingar hiburan yang
ditampilkan di seputaran Cisungsang. Acara hiburan baru berakhir sekitar pukul
01.00 WIB yang menandakan hari sudah berganti menjadi Minggu 23 September, hari
di mana rangakaian acara Festival Seren Taun 2012 akan menemui puncaknya.
Seluruh pengunjung dan warga beristirahat. Pengunjung dari luar kota biasanya
telah mempunyai tempat istirahat yang sudah dipesan sebelumnya. Mereka akan
tidur sejenak di rumah-rumah warga atau di mana saja sebelum menyaksikan puncak
acara saat matahari menampakkan batang hidungnya.
Bersambung….



Tidak ada komentar:
Posting Komentar