Rasanya, kehidupan yang saya alami berangkat dari sejumlah getir. Di mana darah yang mengalir di selubung urat nadi membawa serta lumpur kesusahan masa silam. Mengendap di sumsum tulang dan enggan memuai melintasi batas kemudahan.
Saya pasti dan akan selalu ingat sepotong petuah bijak para filosof yang sering mengatakan bahwa ilmu adalah lautan, dan buku merupakan perahunya. Tetapi mengapa masih banyak orang yang berpaling dari 'perahu' cum 'cahaya' untuk menyibak segala jentik, segala titik, di 'lautan'?
Mungkin saya adalah salah satu yang pernah merasakan kegetiran itu. Keluarga, kerabat, maupun tetangga pernah dan masih bekubang dalam sebuah lubang yang dipenuhi lumpur getir. Bahkan kegetiran itu masih melekat di setiap kulit hingga termakan dan menempel di labirin kehidupan personalnya, hingga kini.
Terang saja, dalam seperempat abad kehidupan saya, tidak ada yang berubah atau mungkin bergeser sedikit pun pemahaman kami terkait cara memandang kehidupan. Semuanya serba materi. Setidaknya dalam pandangan saya. Bagun pagi, minum kopi, bekerja, tidur, lalu berulang lagi. Mungkin ada sedikit hiburan, tapi lagi-lagi, gemanya bukan restrukturisasi melainkan inisiasi.
Saya sering memandang seluruh gerak-gerik itu hadir lantaran keinginan untuk melepaskan diri dari jerat getir. Nampaknya, getir itu selalu nyinyir dengan kodrati yang terpaksa hadir. Alih-alih menjalani kehidupan, kami justru hanya bertahan untuk sekedar hidup. Karena batas susah yang terlalu menganga itu, maka pandangan kami terhadap kehidupan pun samar.
Nah, sejurus kemudian, kami justru tidak memanfaatkan 'perahu' serta 'lautan' untuk bergegas mencari sejentik ikan yang mungkin ke depannya bisa digunakan. Malahan kami seperti dituntut untuk mengikuti suara sumbang uang yang terdengar lebih lantang ketimbang melihat setitik 'nur' di kejauhan. Seakan, gaung uang lebih memesona dan bisa menghapus kesamaran kami dalam memandang kehidupan dan bahkan arah yang kami tuju.
Saya bukanlah tipe manusia yang sedari kecil diceritakan tentang kehidupan kancil. Menjelang tidur, saya tak pernah diberi sekelumit cerita Puteri Salju. Mengapa? Orang tua dan keluarga saya jarang membaca. Terkecuali mungkin bapak saya, karena beliau lulusan pesantren. Mungkin sering membaca kitab suci atau kitab kuning, tapi tok hanya membaca tidak mengkonstruksikannya dengan realitas dengan hal-hal di depan mata.
Membaca, bagi sebagian besar keluarga saya adalah hal yang menjemukan. Membaca hanya dilakukan untuk hal-hal yang genting. Di masa senggang? Jangan pikir untuk membaca, meregangkan otot sehabis bekerja adalah yang utama.
Setali tiga uang, menulis pun bagi kami tidak penting. Menulis bagi kami adalah deratan angka dengan angka nol beranak-pinak. Menulis adalah ketika guru di sekolah mendiktekan buku pelajaran yang tidak akan pernah kami tahu apa makna dibalik deretan huruf itu. Atau menulis adalah ketika hasrat mendapatkan lelaki dan perempuan menggebu demi keagungan status. Menulis bukan menjadi 'cukang lantaran' atau jembatan penghubung untuk menuangkan ide dan pikiran tentang apapun. Sebab, menulis bukan kesenangan, melainkan sebuah keterpaksaan.
Sedikit dari keberuntungan, anak dari kedua orang tua saya bisa menjelajah dunia pendidikan hingga perguruan tinggi. Beruntung pula, karena kami punya orang tua yang setidaknya bukan hanya bertahan untuk hidup. Meskipun tidak agresif, namun kami bisa sedikit memainkan bola kehidupan dalam keterbatasan skill.
Tidak seperti teman sejawat, anak orang tua saya menganggap membaca adalah hal yang sudah tidak menjemukan. Walau tidak seintensif orang kota yang sudah menganggapnya sebagai budaya. Walhasil, kami hanya punya sedikit daftar referensi buku yang pernah dibaca dan dimiliki.
Kendati sudah tak lagi menjemukan, membaca bagi saya adalah sebuah kegetiran. Bagaimana tidak? Untuk sekedar membaca, saya hanya bisa meminjam terbatas pada sejumlah orang. Paling hanya pada kakak, sepupu, atau saudara jauh yang bersekolah tinggi. Apalagi di kampung, perpustakaan hanya angan yang sekelebat melintas di udara. Membeli buku atau media massa cetak butuh waktu, tenaga, dan uang lebih. Karena jarak jauh dengan kota telah memetakan dan mengeliminasi kami menjadi penghuni desa tertinggal.
Syahdan, kakak sepupu yang bergelar pun sering meminjamkan buku. Segala buku. Meski dominannya buku-buku agama, sejarah, dan kumpulan karya sastra Gibran dan Rumi. Tak heran, karena sepupu saya adalah lulusan institusi keagamaan negeri. Maka sudah jelas, ke mana arah pemikiran saya hingga saat ini.
Segala prosa, puisi, maupun cerita sastra membawa saya rajin mengutak-atik rangkaian kata. Bermetafora, berandai-andai, atau sekedar memindahkan bagian-bagian alam semesta dalam rangkai kata. Dari situ, saya mulai menulis. Dan menjadi kegemaran kala SMA hingga bangku kuliah. Tetapi gemar itu hanya colek gula. Manis tapi sering membuat giung. Tidak setiap saat saya menulis. Karena bagi saya menulis bukanlah hal yang bisa dipaksakan.
Hingga pada akhirnya, menulis berubah wujud. Dari sekedar hobi menjadi lobby. Dari kegemaran menjadi sebuah pekerjaan. Dan menulis seolah menjadi sejumput kegetiran. Jika tak menulis, maka tak ada 'acis'. Tak ada rangkai kata, tak ada laba.
Ketika menulis pun rasa getir itu hadir. Salah sedikit bisa kena badai petir. Sebab menulis kini bukan soal pengejawantahan pelangi, bukan soal tafsir mimpi, melainkan tentang tragedi. Segala bentuk cerita yang harus penuh dengan fakta, data, dan suara. Waktu bukan lagi teman, ia menjelma menjadi musuh yang harus selalu dikalahkan. Bahkan terkesan seperti algojo yang siap menggantungkan nasib saya hingga nafas kehabisan.
Kala senggang, menulis adalah keengganan. Lebih-lebih, saya seperti menghindar. Tapi ke mana? Saya tidak bisa terus bertahan dalam suasana yang hingar dan bingar. Ada masanya kesendirian adalah hal yang penting untuk dirasakan. Namun, dalam kesendirian pun tak selalu bersifat 'sendiri'. Ada pikiran yang lantang, kegaduhan yang minta diuraikan.
Sama halnya dengan membaca buku. Berteman dengan buku membuat saya seperti didesak untuk menjawab segala kegundahan dan kepastiannya. Salah satu cara menjawabnya adalah dengan menulis. Hal ini berarti membawa saya kembali pada aktivitas yang ingin saya hindar tadi.
Atau mungkin saya harus membedakan wujud menulis dalam lingkup kerja dan menulis dalam lingkar lainnya? Lalu di mana tepatnya definisi menulis bagi saya?
Mungkin saya akan mencoba memahami kembali kata-kata teman saya: "Aku menulis, maka aku berlibur adalah awal dari peribahasa sehari sepatah kata, lama-lama setumpuk buku. Menulis adalah hiburan, sebuah vakansi. Liburan yang menyegarkan pikiran dan mengenyahkan beban. Bercerita tentang kisah diri dan orang-orang yang mempengaruhi, tentang perjalanan dan perenungan, dan dengan gaya tragedi maupun komedi adalah kebutuhan yang menyenangkan. Baik atau buruk silakan menjadi perspektif masing-masing pembaca. Tapi ingin menjadi lebih baik dalam tiap perjalanan kata itu adalah niscaya" - themoderntramp.blogspot.com
Jakarta, 14 Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar