Pages

Selasa, 15 November 2011

MENGERAS, BERGEGAS


Mengeras atau bergegas? Mari menakar hati dengan peliknya silang tawar. Mungkin kita tidak terlalu peduli dengan pertimbangan. Atau, kita mungkin suka dengan resiko.

Menciptakan hujan itu terbilang tidak sulit. Tapi melengkungkan pelangi, mengharumkan tanah dengan aksiri, atau Mengicaukan pipit usainya terasa amat susah. Jika hujan itu deret air yang bergegas, itu hanya tampak. Bukankah sebelumnya hujan pun mengeras? Mengkristal di rahim awan, menggantung di atap gunung.

Terkadang seketika kita maju ke medan pertempuran, sabet sana-sini, dapat ini-itu, lantas merasa menang. Lepas kita tertawa, lupa kita bertanya, akankah kemenangan ini menjadi lebih besar jika tanpa paksaan pun lawan segan dan mengakui kejelian kita?

Hingga kini, saya ragu untuk bergegas. Namun jawaban selanjutnya pun bukan pula mengeras.

Lantas, apa yang seharusnya saya perbuat? Hati itu pelik kawan. Jika patah, menyambungkannya teramat susah. Cinta buta bukan pula niscaya. Terlebih, menyalakan sebatang lilin saja terasa lirih.

"Gembalakanlah dulu hatimu di tanah lapang. Jangan sungkan bersalaman dengan hujan. Jangan malu belajar mengenal bunga di taman. Bertendalah dengan pertemanan, seberangilah sungai perkenalan. Tak usah terburu-buru ke kota. Kota tak ubahnya kotak, tempat di mana permusuhan mudah kau dapat. Area di mana orang sering lupa dengan mati. Dan kota hanya untuk orang-orang yang ingin bergegas. Ingat hatimu belum sekeras cadas."

Jakarta, November 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar