Pages

Kamis, 24 Maret 2011

HIDUP

Saat mata terpejam lelah, saat tubuh tertancap gerah, saat jiwa tertimbun amarah
Hempaskanlah rindu pada rintik-rintik hujan di ujung randu yang membias melepas candu
Saat gelap membawa buta, saat lelap menggendong hampa, saat lenyap memikul derita
Rabalah sukma dengan cinta berhias suka dalam cawan terang berpelita senja


Mari menyulam. Menyimpai benang hidup demi harap yang tak redup.
Mari memahat. Membentuk raga yang terkendali positif jiwa.
Mari melukis. Me-reka masa penuh dengan warna asa.


Sebentar, tengok alam sekitar, hanya sebentar
Daun-daun berdesir bersenandung getir. Di ujung daunnya ringkih tertindih pasir.
Angin telah lama menetap di hutan yang tak lagi lebat karena habis dibabat.
Awan sudah lama mendung, sudah renta untuk sekedar menampung air di dalam kantung


Hey lihat, hujan lebat
Meluluh-lantahkan tanah tebing tempat orang miskin menjemur nasi aking
Hey dengar, hujan bergelegar
Membanjiri ribuan orang fakir yang atap rumahnya nihil penangkal petir
Hey rasakan, itu hujan
Minyak aksiri sudah lama menguap ditendang limbah kimia yang tak sedap


Tanpa kita sadari, beban menunggangi pelana pundak kita sebelum pecuti ubun-ubun
Tanpa kita sadari, pula, kita mengundang beban untuk sekedar mencabuti sisa-sisa bahagia
Tertawa kita tanpanya, menangis kita karenanya
Tapi kita sangat tidak sadar ketika keberadaannya mampu mempertajam pisau-amat di kepala?


Pecundang pagi masih bermimpi meski dendang halu ramai menumbuk padi
Pecundang malam masih bergumam meski sunyi menggiring lelah menuju cerah


Mereka bilang hidup itu pasrah, kalian bilang hidup itu celah
Maka saya bilang hidup itu seimbang dengan paras yang selaras
Dan cinta adalah alam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar