Tiang-tiang beton nan tinggi itu menjulang menunjuk langit. Kiranya sekitar 10 meter. Bergelayutan kabel-kabel hitam sebesar betis manusia dewasa. Dari dalam mini bus Mitsubishi Colt Diesel L300 yang saya tumpangi, terlihat jelas sawah-sawah sedang tak ditumbuhi hijau ranum tangkai padi bergelayutan. Yang ada hanya jerami kuning yang ditumpuk di sana-sini. Di sisi kedua jalan yang masih berbatu, air masih mengalir deras dalam koridor yang bernama irigasi. Airnya bening, tidak seperti di kota yang hitam legam sedikit kebiruan dan berbau tak sedap.
Tak ada kegiatan mencangkul atau membajak sawah dengan kerbau. Karena seperti mamah bilang, belum saatnya. Padahal sungai tak mengering, begitu juga dengan irigasi. Namun kata Mamah, ada mitos di perkampungan itu bahwa ketika hendak memulai membajak sawah harus ada ciri-ciri dari alam untuk menyetujuinya. Seperti buah randu (kapas) yang membelah menunjukkan akan kemarau. Kalau tidak, ya bisa dipastikan gagal panen. Entah itu karena langit enggan menetaskan hujan atau pun hama yang kurang bersahabat.
Saya masih ingat. Dulu ketika hendak lebaran, kami yang notabene hidup di pulau seberang sibuk dengan segala oleh-oleh yang hendak kami bawa untuk dibagikan orang sekitar rumah Emak dan Abah. Mamah riweuh membenahi dan menata kardus yang isinya tidak jauh dari makanan khas, serta pernak-pernik lebaran. Apa’ juga sama. Bersama supir dia membicarakan jalur yang aman dan cepat untuk dilewati juga sesekali mengecek mesin mobil agar tidak mogok di tengah jalan. Saya hanya memandangi mainan saya yang pasti akan saya banggakan di kampung Emak dan Abah. Karena saya percaya bahwa dulur-dulur sebaya saya belum punya mainan seperti yang saya punya. Haha, sombong sekali saya!
“Mah, sekarang mah ada listrik nya?”
“Enya puguh ge A’, ti taun kamari.”
Meski kami tinggal di perantauan yang telah menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam setiap percakapan orang-orang di sana. Tapi dalam keluarga, bahasa nenek moyang selalu digunakan. Walau pun dengan tingkatan bahasa yang universal. Halus tidak, kasar jangan.
Saya masih setia dengan meng-karedok-kan bahasa percakapan. Mungkin karena pengaruh dua lingkungan, lingkungan ke-Indonesia-an, dan lingkungan Sunda tulen. Tapi, ya, saya sangat menikmati dua lingkungan ini.
“Atuh ayeuna mah enggak perlu pake aki nonton tipi teh.”
“Nya enya atuh, ayeuna mah tinggal colok bae,” Mamah ketus.
“Wah”, dalam hati saya, “bisa kapan saja nih menonton tv. Tidak perlu repot-repot minta aki disetrum ulang.”
Ketika itu 1996, listrik adalah sesuatu yang “wah” dan menjadi tren baru di kalangan masyarakat desa. Yang pake damar cempor atau pun petromak, insyaallah lari dan berganti pasang listrik. Termasuk Emak dan Abah saya. Mereka dianjurkan oleh kedua orang tua saya agar memasang listrik di rumah sebelum tiang-tiang beton itu tertancap di di sepanjang pinggir jalan desa mereka. Walhasil, perkampungan yang dulu gelap gulita menjadi terang benderang. Rasanya Kartini tahu betul Alfa Edison.
Sejak saat itu, kehidupan masyarakat di kampung Cikembang, Desa Giriwangi mulai ramai. Bukan ramai karena banyaknya pendatang. Atau ramai gara-gara ada pasar. Tapi ramai dengan kesibukan yang tak lepas dari adanya listrik.
Jika dulu penanda datangnya wanci sholat 5 waktu hanya menggunakan bedug dan kohkol, sekarang ditambah dengan kumandang adzan yang keluar dari TOA (merk alat pengeras suara). Jika dulu santriwan dan santriwati mengaji dengan mengandalkan petromak dan cempor, sekarang memakai bohlam dan neon. Kumandang sholawat dan tilawah pun kurang klop kalau tak memakai speaker.
Sayang. Ternyata keramaian itu makin lama makin menjauh bagi rumah Emak dan Abah. Sepertinya kehadiran si listrik berdampak sepi bagi Emak dan Abah. Sebelum ada listrik, orang-orang ramai mengunjungi rumah Emak dan Abah karena ingin melihat aksi si leher beton. atau sekedar ingin melihat aksi kebrutalan tentara Serbia membabat habis kelompok minoritas Bosnia pada program Dunia Dalam Berita. Atau juga melihat keperkasaan ABRI membasmi PKI dalam film yang hanya diputar setahun sekali.
Emak mungkin kurang senang karena waktu tidurnya terganggu oleh gelak tawa, komentar gak penting, juga ricuh para tetangganya yang minta air panas untuk menyeduh kopi. Tapi apalah daya, si Abah ternyata senang berkongkow ria. “Nya itung-itung ngaronda we ieu mah,” alasan basi.
Layar cembung berukuran 14 inchi itu terletak tepat di atas rak kayu kecil berbentuk persegi panjang. Tombol-tombol pengubah channel masih berada di samping layar monitor. Kotak ajaib bernama televisi itu merupakan salah satu bagian hiasan di ruang keluarga dekat ruang makan rumah emak dan abah. “Mitsubishi”, ya, saya masih hafal nama brand yang tertulis sekitar 2 centimeter di bawah layar monitor. Menurut apa’ saya, brand ini merupakan barang langka di tahun 1995, namun jawara di era 80-an.
Sembari menyeruput kopi pahit buatan emak dari mug besar yang terbuat dari kaleng bermotif bunga, abah sering melototi kotak audio-visual itu ba’da isya. Karena di siang hari, emak dan abah rajin ke sawah atau kebun untuk menengok bibit albasiah yang baru ditanam sebulan yang lalu. “sok loba kokod panjang,” kalau abah saya bilang begitu.
Sebenarnya, emak dan abah sudah punya televisi hitam putih tahun 70-an. Tapi karena televisi itu sudah usang maka apa’ dan mamah mengirim mereka seunit televisi yang telah diceritakan tadi. Televisi yang merk-nya lebih terkenal sebagai merk mobil itu sesungguhnya merupakan tv yang ada di rumah saya. Namun karena di rumah ada 2 unit maka salah satunya dikirim ke kampung halaman.
“Lumayan we teu tinggaleun-tinggaleun teuing ku tatangga,” ya itulah abah, meskipun galak, abah adalah orang yang selalu mensyukuri apa yang ada. Tetangga? Ternyata mereka sudah berangsur-angsur memiliki kotak ajaib itu. Dari yang kontan hingga menggunakan jasa kredit, semua berusaha membeli televisi. Apalagi hanya tinggal colok. Tidak perlu repot-repot menempuh delapan kilometer ke kota Manonjaya membawa aki cap GS, yang kosong hanya untuk di-charge.
Terlebih, saat itu TVRI tidak tampil sendirian sebagai stasiun penyalur warta atau hiburan untuk menyiarkan acara-acara kegemaran para pemirsanya. Karena ada beberapa lawan kini tampil di beda gelombang. Selain Berpacu dalam Melodi, Album Minggu, atau Dunia dalam Berita di TVRI, makin banyak acara-acara yang hampir sama di beberapa stasiun tv lainnya. Di mana Tak-Tik-Boom, Seputar Indonesia, Sinema Elektronik (Sinetron), Doraemon, Dragonball, Kera Sakti, ataupun siaran sepakbola dari Italia menjadi menu baru yang menggugah selera untuk dicicipi oleh masyarakat di kampung saya. Belum lagi parabola yang juga ikut tertanam di halaman beberapa rumah milik warga yang sedikit berada.
Meski televisi sudah hadir di beberapa rumah warga. Namun televisi belum terlalu melibas budaya setempat. Setidaknya di waktu-waktu tertentu, warga masih menjalani rutinitas yang biasa mereka kerjakan sebelum datangnya kotak ajaib. Seperti halnya emak dan abah. Wirid-an selepas maghrib tak bisa digantikan oleh nyanyian merdu artis ibukota di televisi. Berita pagi tak pernah dilihat jika ayam masih bernyanyi karena takut mati.
Demikian pula dengan para remaja dan bocah ingusan. Mereka di masa itu masih terbentur jadwal mengaji. Sekolah di pagi hari, diniyah selepas dzuhur, dan berangkat mengaji ke pesantren-pesantren terdekat menjelang maghrib berbunyi. Tak ada yang berani menongkrongi televisi jika bukan minggu pagi. Atau selepas shodlaqallah al-adzim dibaca bersama-sama pertanda selesai mengaji. Itu pun jika tidak ada pekerjaan rumah (PR) dari sekolah menanti sebagai tugas yang harus dikumpulkan esok hari.
*
Mug bermotif bunga itu masih ada di rak piring milik Emak. Namun sejawat yang selalu membawanya ikut serta melintasi dunia melaui layar televisi itu sudah tiada. Abah, sosok kakek yang galak dan humoris itu telah meninggalkan kami untuk selamanya ketika ia hanya sebentar melototi tv merk Mitsubishi, karena penyakit yang beliau derita. Begitu pun juga dengan tv-nya. Mitsubishi itu sudah berganti menjadi merk tv terkenal buatan Negeri Sakura. Ia tergeletak di antara barang bekas lainnya yang mungkin suatu hari akan saya pajang di museum pribadi saya, insyaallah.
Televisi hadir ketika radio sudah bosan dinikmati. Televisi menjadi semacam pelarian baru dari dunia nyata yang mereka sendiri kurang tahu arahnya ke mana. Setelah radio hanya mampu menghadirkan suara-suara merdu, televisi menghadirkan sesuatu yang lebih. Mereka tidak hanya bisa mengira-ngira seperti apa rupa manusia di radio. Namun mereka juga bisa melihat secara jelas buruk dan tampannya orang yang hadir di televisi. Walhasil televisi bagai penampakkan impian-impian mereka untuk bisa lari dari kejenuhan hidupnya.
Setelah televisi hadir, maka instrumen-instrumen pelengkapnya pun datang pula. Mulai dari VCD Player, DVD Player, dan Playstation ikut menjamah rumah-rumah orang kampung. Bahkan warung-warung yang menyediakan jasa pemakaian internet pun seolah melengkapi kehadiran abad teknologi di tanah yang masih berstatus kampung. Internet bisa diakses dari manapun dan melalui apapun. Cukup menanam menara BTS (base transceiver station) di dekat lapangan sepakbola. Para remaja dan bocah ingusan asyik berkomunikasi lewat media. Lewat komputer PC dan jinjing atau sekedar telepon genggam. Sudah jarang ngadu kelereng, gobaksodor, gatrik, ngobor, atau congklak. Berganti dengan permainan di layar monitor yang bisa mengasah otak, cenah.
Ya sudahlah, mungkin sudah waktunya manusia melengkapi hidupnya dengan apa yang ia ciptakan. Bukan hanya sekedar numpang pada alam yang diciptakan Tuhan. Lagian saya juga pengguna teknologi. Saya tidak mau menyalahkan orang lain. Mungkin ini hanya kerinduan saya dengan apa yang saya temukan semasa kecil dahulu. Dan kerinduan saya ini yang membuat saya terkadang berprasangka. Mungkin ini juga salah saya karena memikirkan hal-hal yang kadar kepentingannya secuil.
Oh ya, nenek saya pun sempat berujar ketika saya melarang keponakan saya menonton tv ketika maghrib belum berlalu, “Keun we, da barudak ayeuna mah geus teu apaleun Rawu-Kelong!” hahaha, saya hanya tersenyum miris.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar