Ada yang beringas di balik rengas. Adalah Sang Getah, yang
siap memarahi pendulum yang tak tahu diri; bersimpuh seakan abdi, bergelagat di
sempat meski sempit. Besar rengas tampak, jembar punya jarak.
Hal yang terburuk pun mengeras di jantung yang memangkas
setiap ujung. Darah melaju dan tak kembali.
"Nak, hatimu kudus, kau tak akan pernah merasa
tandus," Ayah bercerita melalui kanvas sebentuk takdir, bersama kuas
semacam pikir, dan mewarnakannya dengan cat seumpama getir.
***
Kamis entah kapan, Ayah menyuruhku berdandan. Di dapur, dua
cangkir teh pahit siap dibawanya dalam nampan.
"Kita akan ke museum."
Tanganku bergetar. Mataku terpana pada kumis Ayah rapi
berjajar. Ada putih yang berselang di bawah hidung yang tak pernah mancung: Ia
uzur.
Peci hitam, batik usang, perangai riang. Kami menyusuri dua
kelok jalan berdepa-depa. Kanan-kiri saja.
Sejak di pasar Ayah menyulut kretek tingwe*. Asap yang yang
dihembus menyamarkan rengek. "Nanti Aku akan merokok," pikirku.
Lantas kepulannya jadi bulat. Lalu kutusuk bolong tengahnya
dengan telunjuk. Asap tak bergeming, menyusuri pergelangan kering, bubar dan
lenyap.
"Laksana jagat
raya, dewasa nanti kau akan paham itu," bibirnya melebar menyeringai. Gigi
kuning dan bulu hidung yang tak pernah digunting mengikat sari tembakau.
Tepat di depan museum, seorang pria tua berkacamata
memandang dirinya dalam cermin. Kedua alisnya tak henti diurut dua ibu jari
yang salah satunya tak punya kuku. Di dadanya tertulis kata; penjaga.
Ayah mengambil sesuatu di koceknya. Selembar uang lima ribu.
"Untuk berdua," ucapnya. Pria berkacamata sedikit botak itu kemudian
membuka laci, srek, ia kembalikan lembaran uang seribu.
"Ayah, seram. Aku takut." Kedap ruang menggigilkan
kulit keringku.
Orang tuaku malah tertawa, seakan bahagia. "Seram bukan
mula suram, seram tidak berakhir buram, seram hanya geram. Ayo kita
masuk."
Kedatanganku disambut dua patung telanjang tanpa jembut.
Satu merana, satu meraya. Yang merana, memeluk bumi di katup hati. Yang meraya,
memandang pongah langit tak berarah.
Aku masuk dan berkeliling, tentu dengan ayah di samping.
Lentera hampir redup saat kami tiba di ruang kecil dengan
degup. Penerang berbentuk bohlam itu sepertinya setua museumnya. Jaring
laba-laba tergelar di setiap kabel hitamnya.
Ruang yang kecil berubah jadi besar. Di dinding yang pudar,
gambaran dunia melebarkannya. Berjejer bingkai-bingkai besar membatasi antara
satu dan lainnya.
"Lukisan ini mirip punya Ayah." Aku terpana.
Rengas tunggal itu kemarin digambarkan ayah di belakang
rumah. Di padang bebatuan, ia berdiri tegang. Air dari segala arah diserap
akar-akarnya. Dahannya digelantungi monyet, pucuknya singgasana kalong,
dindingnya dirayapi semut, daunnya selimut ulat.
"Ayah, ini siapa?" Ku lihat sesosok remaja
tanggung dengan mesin senso di tangannya. Rambutnya kriting, bercelana satin,
berkemeja panjang, bersepatu licin. Sedikit di balik kerahnya seutas dasi.
"Kemarin ayah kirim lukisan ini ke sini. Ayo kita
pulang, sudah sore."
Kami tak langsung ke rumah. Ayah mengajakku berjalan ke
alun-alun kota. Ia membelikanku kacang rebus dan jagung rebus. Di bawah tugu
para pendahulu, ayah bercerita masa lalu.
***
"Pak, sudah tanda tangannya?" Royani, seketarisku
menggerutu. Katanya proposal pembangunan real estate itu sudah ditunggu. Para
pesuruh pengembang di luar sudah tak menentu.
"Oh..."
Ballpoint di tanganku seakan licin. Peluh membanjir hampir
ke setiap cela kain.
"Maaf, Ayah."
Jakarta, 9 Mei 2012
Kretek Tingwe (linting dewek) - sebatang rokok yang
dilinting sendiri. Tembakau, cengkeh, dan papirnya terpisah
Mesin senso atau Chin Show adalah mesin pemotong kayu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar